Rabu, Januari 06, 2021

Menganalisis Tahap Asesmen Literasi Membaca Tingkat SMA

Pada level pembelajaran 1 untuk kelas 9 dan 10, siswa akan belajar sesuai tingkat kognitif pada literasi membaca hanya saja siswa pada kelas 9 dan 10 akan menggunakan konten yang terus meningkat sesuai dengan jenjangnya. Siswa akan memahami teks secara literal dan menyusun inferensi, membuat koneksi dan prediksi baik teks tunggal maupun teks jamak. Siswa juga menilai format penyajian dalam teks dan merefleksi isi wacana untuk pengambilan keputusan, menetapkan pilihan, dan mengaitkan isi teks terhadap pengalaman pribadi Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link Level Pembelajaran 1 Literasi Membaca Teks Fiksi dan Level Pembelajaran 1 Literasi Membaca Teks Informasi

Pada level pembelajaran 2 untuk kelas 11 dan 12, sama seperti level pembelajaran 1 siswa juga akan belajar sesuai tingkat kognitif pada literasi membaca hanya saja siswa pada kelas 11 dan 12 akan menggunakan konten yang terus meningkat sesuai dengan jenjangnya. Siswa akan memahami teks secara literal dan menyusun inferensi, membuat koneksi dan prediksi baik teks tunggal maupun teks jamak. Siswa juga menilai format penyajian dalam teks dan merefleksi asumsi, ideologi, atau nilai yang terkandung dari teks sastra atau teks informasi untuk memahami cara pandang penulis sesuai jenjangnya. Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link Level Pembelajaran 2 Literasi Membaca Teks Fiksi dan Level Pembelajaran 2 Literasi Membaca Teks Informasi

Sumber: https://sim-gurubelajar.simpkb.id


Mengenal Asesmen Kompetensi Minimum Literasi Membaca


Asesmen Kompetensi Minimum merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua siswa untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yaitu literasi membaca dan numerasi. 

Pada topik ini, Bapak dan Ibu guru akan mempelajari lebih jauh mengenai Asesmen Literasi Membaca yang berlaku untuk Asesmen Kompetensi Minimum yang akan diberikan pada siswa. Dalam penilaiannya asesmen literasi membaca tidak hanya mengukur topik atau konten tertentu tetapi berbagai konten, berbagai konteks dan pada beberapa tingkat proses kognitif. 

Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks informasi dan teks fiksi. Kemudian, tingkat proses kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Sedangkan konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.

Sumber: https://sim-gurubelajar.simpkb.id

Refleksi Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional

 


Bismillah

Asesmen Nasional diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat daasr dan menengah serta program kesetaraan di Indonesia. Di mana hanya diambil sampel dari sebagian siswa saja yang mengikuti Asesmen Nasional ini, bukan dari kelas akhir setiap jenjang, namun dari kelas V, VIII, dan XI. Karena Asesmen Nasional dilaksanakan bukan digunakan sebagai penentu kelulusan dan menilai individu siswa, namun ini adalah evaluasi sistem untuk peningkatan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Asesmen Nasional bukan hanya diikuti oleh sebagian siswa, namun juga diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Ini dilakukan sebagai kelengkapan informasi mengenai kualitas dari input, proses dan hasil dari pembelajaran di satuan pendidikan yang bersangkutan.

Bentuk soal Asesmen Nasional AKM terdiri dari pilihan ganda yang hanya memilih satu jawaban yang dianggap paling tepat saja, pilihan ganda kompleks yang bisa dipilih siswa lebih dari satu jawaban yang dianggap tepat, menjodohkan pasangan jawaban siswa dengan pertanyaannya, isian singkat yang merupakan bentuk jawaban berupa bilangan atau nama benda dan jawaban pasti lainnya, serta uraian yang membutuhkan penjelasan lengkap sebagai jawaban siswa. 

Petunjuk dan Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional


Pada aktivitas ini, Anda akan mempelajari secara khusus, bagaimana butir-butir soal yang akan diberikan dalam Asesmen Nasional, khususnya Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). AKM merupakan bagian dari Asesmen Nasional yang mencakup asesmen kompetensi mendasar, yaitu literasi membaca dan asesmen kompetensi numerasi.  

Bentuk soal Asesmen Nasional AKM,  terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat dan uraian.

  1. Pilihan ganda, siswa hanya dapat memilih satu jawaban benar dalam satu soal. 
  2. Pilihan ganda kompleks, siswa dapat memilih lebih dari satu jawaban benar dalam satu
  3. Menjodohkan, siswa menjawab dengan dengan cara menarik garis dari satu titik ke titik lainnya yang merupakan pasangan pertanyaan dengan jawabannya.
  4. Isian singkat, siswa dapat menjawab berupa bilangan, kata untuk menyebutkan nama benda, tempat, atau jawaban pasti lainnya. 
  5. Uraian, siswa menjawab soal berupa kalimat-kalimat untuk menjelaskan jawabannya.

Murid kelas V akan mengerjakan 30 butir soal untuk mengukur kompetensi literasi membaca dan 30 butir soal untuk mengukur kompetensi numerasi. Sedangkan siswa kelas VIII dan XI akan mengerjakan 36 butir soal untuk mengukur kompetensi literasi membaca dan 36 butir soal untuk mengukur kompetensi numerasi.

AKM dilaksanakan secara adaptif, sehingga setiap siswa akan menempuh soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa itu sendiri. AKM mengukur kompetensi mendasar yang perlu dipelajari semua siswa tanpa membedakan peminatannya. Oleh karena itu seluruh siswa akan mendapat soal yang mengukur kompetensi yang sama. Keunikan konteks beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran dan peminatan tercermin dalam ragam stimulus soal-soal AKM.

AKM disusun berdasarkan indikator-indikator kompetensi yang membentuk lintasan kompetensi hasil belajar yang bersifat kontinum. Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemdikbud menyediakan contoh soal AKM pada laman: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm 

sumber: https://sim-gurubelajar.simpkb.id

Kriteria Peserta Pelaksana Asesmen Nasional

  


Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM. Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir tingkat 2, tingkat 4 dan tingkat 6 program kesetaraan.

Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian siswa? 

Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi siswa sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu siswa menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua siswa perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili populasi siswa di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional.

Mengapa yang menjadi sampel adalah siswa kelas V, VIII dan XI? 

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar siswa yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. Selain itu, Asesmen Nasional juga digunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional. 

Perlu diketahui, selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh semua guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan. Sementara Asesmen Kompetensi Minimum untuk pendidikan kesetaraan berfungsi sebagai ujian kesetaraan. 

sumber dari https://sim-gurubelajar.simpkb.id/




Selasa, Januari 05, 2021

Refleksi konsep Asesmen Nasional


 Bismillah.
Perubahan sistem evaluasi dari Ujian Nasional ke Asesmen Nasional merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh. Asesmen Nasional tidak diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan sebagaimana Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang pendidikan. Yaitu pada kelas 5, 8, 11.  Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode survei. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional yang menggunakan metode sensus dimana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya.

Manfaat Asesmen Nasional:

  • Potret kualitas pembelajaran di sekolah/daerah
  • Umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah/daerah
  • Sebagai dasar untuk menyusunan program peningkatan kualitas pembelajaran sekolah/daerah

Tujuan penyelenggaraan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional tidak sama. Seperti yang telah dijelaskan pada topik dan aktivitas sebelumnya, Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi mutu sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan Ujian Nasional bertujuan untuk mengevaluasi capaian hasil belajar siswa secara individu. 

Kebijakan pelaksanaan Asesmen Nasional juga berangkat dari evaluasi yang dilakukan terhadap Ujian Nasional yang telah berlangsung selama ini. Ujian Nasional menjadi lebih berorientasi pada pencapaian hasil belajar individu dan pembelajaran yang berorientasi pada ujian.

Asesmen Nasional bukan pengganti Ujian Nasional. Selain dari teknis pelaksanaannya, cakupan Asesmen Nasional berbeda jika dibandingkan dengan Ujian Nasional. Asesmen Nasional lebih memberikan gambaran yang lebih utuh dan luas mengenai mutu pendidikan, bukan hanya secara kognitif, namun juga karakter dan iklim belajar.  

Senin, Januari 04, 2021

Apa yang diharapkan dari Asesmen Nasional?

 


Asesmen Nasional bukan hanya sebagai pengganti Ujian Nasional, namun bisa menjadi alat ukur untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang dimiliki siswa. Asesmen Nasional bukan hasil dari individu siswa, namun juga potret dari lingkungan sekolahnya. Asesmen ini bukan hanya mengukur pengetahuan siswa, namun juga mengukur sosial emosionalnya, termasuk di dalamnya sikap, nilai, keyakinan, serta perilakunya.

Selain tuntutan kecakapan hidup abad 21 (kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan menggunakan teknologi informasi, dan kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat), profil pelajar Pancasila juga menjadi rujukan pencapaian karakter bagi seluruh siswa di Indonesia. Di mana ada 6 pilar karakter pelajar Pancasila yang harus ditanamkan, yaitu:

  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia
  2. Kebhinekaan global
  3. Kemandirian
  4. Gotong Royong
  5. Bernalar kritis
  6. Kreativitas

Harapan saya, seluruh warga sekolah tidak menghawatirkan hasil asesmen siswa, karena hasil yang mereka peroleh merupakan cerminan input dan proses selama pembelajaran mereka di sekolah.
Karena asesmen ini tidak hanya berfokus pada nilai akademik siswa, melainkan melatih dasar-dasar analisis mereka melalui literasi dan numerasi yang bisa memberikan pengaruh yang sangat hebat dalam menganalisis berbagai mata pelajaran yang dipelajari di kelas.

d'most fav web

Copyright @ 2013 yanti.