Selasa, Januari 22, 2019

Bagaimana Cara Masuk Surga Sekeluarga?



Penulis: Sriyanti/Batam

Sebagai keluarga, tentu kita selalu ingin berkumpul di setiap keadaan. Bahkan ada pepatah populer mengatakan, “Makan tak makan asal kumpul”. Dengan teman saja kita ingin selalu berkumpul, apalagi dengan keluarga. Begitu pun saat kita sedang bertugas ke luar kota, kita selalu merindukan keluarga kita. Rasanya ingin cepat-cepat selesai tugas dan kembali berkumpul bersama keluarga. Bukankah demikian? Tentu saja, cita-cita setiap insan di dunia ini, ingin masuk Surga. Dan masuk Surganya bersama dengan keluarga, berkumpul dengan Rasulullah .

Nah, bagaimana caranya, agar kita bisa masuk Surga sekeluarga?
Lakukan beberapa langkah berikut ini:
1.      Sampaikan keinginan kita kepada seluruh anggota keluarga, bahwa cita-cita tertinggi kita adalah masuk Surga sekeluarga;
Katakan kepada mereka, bahwa kita tidak ingin ada satu pun anggota keluarga kita yang tidak masuk Surga, sehingga bukan hanya berkumpul di dunia saja, tetapi berkumpul juga di akhirat. Dan tempat berkumpulnya keluarga kita di akhirat itu, targetnya adalah Surga.
2.      Mintalah mereka untuk bekerja sama dalam mewujudkan cita-cita tertinggi kita;
Dalam mengerjakan sesuatu, akan terasa lebih mudah jika dilakukan bergotong royong dari pada dilakukan sendiri, oleh karena itu katakan kepada mereka bahwa kita harus saling membantu mewujudkan target akhirat kita, yaitu Surga. Tidak mungkin target yang sebesar itu, hanya dilakukan oleh satu atau beberapa orang saja.
3.      Setiap anggota keluarga tidak boleh ada yang egois;
Artinya masing-masing anggota harus saling mengingatkan, bahwa kita adalah satu dan terhubung. Jadi, jika ada salah satu anggota keluarga kita melakukan hal-hal yang menjauhkan kita ke Surga, maka kita tidak boleh membiarkannya. Kita harus saling bantu, karena anggota keluarga itu bisa diibaratkan seperti anggota tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan ikut merasakan sakitnya. Dengan demikian, anggota tubuh yang lainnya akan merespon dengan menolak atau mengingatkan kita, jika ada indikasi akan terasa sakit lagi.
4.      Jangan bosan berdakwah dalam keluarga untuk mengingatkan mereka agar konsisten melakukan amalan-amalan yang akan membawa kita menuju Surga;
Jika ada anggota keluarga yang melakukan hal-hal yang akan menjauhkan kita dari Surga, itu berarti mereka sedang lupa tentang target akhirat kita, untuk itu jangan pernah merasa bosan untuk mengingatkannya. Seperti kita berdakwah di masayarakat, seperti itulah dakwah kita untuk keluarga kita. Karena semakin sering diingatkan akan semakin melekat pada pola pikir kita, dan itu akan menjadi sebuah sugesti untuk anggota keluarga kita. Dengan demikian, kita akan selalu mengingat target akhirat kita.
5.      Jangan pernah putus asa;
Dalam mengerjakan sesuatu, kita harus tetap semangat untuk mencapai titik yang sudah kita tentukan. Jika suatu saat kita sedang dalam kondisi lelah, maka beristirahatlah, kemudian ingatlah kembali cita-cita kita, target akhirat kita, yaitu Surga. Semoga itu menjadi pembangkit semangat lagi.
6.      Berdo’a;
Ingatlah selalu akan kekuatan sebuah do’a. Ingatlah bahwa Allah selalu mengabulkan do’a-do’a hamba-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah putus atau berhenti untuk memanjatkan do’a di setiap waktu, karena kita tidak pernah tahu, do’a yang mana yang akan diijabah oleh Allah.
7.      Berikhtiar;
Selain kita memanjatkan do’a, jangan lupa untuk berikhtiar. Karena percuma saja seandainya kita hanya mempunyai cita-cita, tapi kita tidak bergerak untuk memulai melakukannya. Dan jangan pernah menunda untuk memulai usaha kita dalam mencapai target kita, karena do’a tanpa usaha adalah sia-sia.
8.      Bersungguh-sungguh;
Karena target akhirat kita adalah sesuatu hal yang paling besar, maka melakukannya harus bersungguh-sungguh. Tidak ada waktu untuk main-main, apalagi menyepelekan hal-hal yang akan membawa kita ke Surga. Allah Maha Melihat, Allah akan melihat kesungguhan dalam ketaatan kita. Insya Allah do’a dan ikhtiar kita tidak sia-sia.
9.      Jadikan rumahku Surgaku.
Fungsikan rumah sebagai masjid, dengan menghidupkan kegiatan amal ibadah seperti yang dilakukan di masjid. Kemudian, fungsikan rumah sebagai madrasah, tempat berlangsungnya pendidikan (akidah/keimanan, ibadah, karakter/akhlak, dan akademik). Selain itu fungsikan rumah sebagai tempat kembali, dimana anggota keluarga betah di rumah dan merasa nyaman pulang ke rumah. Dan fungsikan rumah sebagai benteng pertahanan, dengan menjaga keutuhan keluarga dan jadikan satu-satunya tempat anggota keluarga mencurahkan isi hati, jangan sampai anggota keluarga curhat ke orang lain karena tidak percaya kepada keluarganya sendiri.

Memang tidak mudah melaksanakannya, karena ini hal yang sangat besar. Tapi Allah Maha berkehendak, tak ada yang mustahil bagi-Nya. Semoga dengan melakukan hal-hal di atas, kita dimudahkan Allah untuk masuk Surga-Nya bahkan masuk Surga sekeluarga. Aamiin yaa Robbal ‘alamin

Surga
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Surga = jannah adalah alam akhirat tempat jiwa (roh) manusia mengenyam kebahagiaan sebagai pahala perbuatan baiknya semasa hidup di dunia.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 35, yang berbunyi:
مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْۚ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ
Artinya: “Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (ialah seperti taman); mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah tak henti-henti dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang ingkar kepada Tuhan ialah Neraka.” (QS.13:35)

Ayat tersebut menjelaskan tentang sebuah tempat yang sangat indah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, buah-buahan yang tak pernah berhenti berbuah. Tempat itu bernama Surga, yaitu tempat kembalinya orang-orang yang bertakwa kepada Allah saat mereka hidup di dunia. Wallahu a’lam bish-showab

Lalu, apakah takwa itu? Bagaimanakah seseorang itu bisa dikategorikan sebagai orang bertakwa?

Takwa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, takwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 177, yang berbunyi:
لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ
Yang artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. 2:177)

Dalam ayat tersebut digambarkan bagaimana seseorang itu dikategorikan sebagai orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, nabi-nabi, memberikan sebagian hartanya karea Allah, shalat, zakat, menepati janji, bersabar dalam segala kondisi termasuk dalam peperangan. Wallahu a’lam bish-showab

Ajakan ke Surga
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 221, yang berbunyi:
وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّۚ وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ وَلَا تُنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤۡمِنُواْۚ وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ وَٱلۡمَغۡفِرَةِ بِإِذۡنِهِۦۖ   
Yang artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya…” (QS. 2:221)

Dalam cuplikan ayat tersebut sangat jelas disampaikan bahwa Allah melarang kita menikahi maupun menikahkan orang-orang musyrik, karena mereka akan mengajak kita ke Neraka, sedangkan Allah mengajak kita ke Surga, maka kita hanya tinggal memenuhi ajakan-Nya, tentu saja atas izin-Nya. Wallahu a’lam bish-showab
Bahkan Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Yunus ayat 25, yang berbunyi:
وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ
Yang artinya: “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”

Dalam ayat tersebut, selain menyeru manusia untuk ke Surga-Nya, Allah juga menunjukkan bagaimana kita masuk ke Surga, yaitu jalan yang lurus, jalannya Islam. Wallahu a’lam bish-showab

Dalam ayat lain, Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6, yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk menjaga kita beserta keluarga kita dari api Neraka, sekaligus memerintahkan kita supaya tidak mendurhakai Allah dan menaati perintah-Nya. Wallahu a’lam bish-showab

Amalan-amalan yang dapat mengantarkan kita ke Surga
Dalam cuplikan hadis Arba’in An-Nawawiyah, Hadis ke-29 halaman 49, yang berbunyi:
“Dari Mu’adz bin Jabal r.a. berkata, “Aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amal yang akan memasukkanku ke dalam Surga dan menjauhkanku dari Neraka” Beliau (Nabi) bersabda, “Engkau bertanya sesuatu yang besar, namun itu menjadi mudah bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah c. Engkau harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Tirmizi)
Pesan yang disampaikan dalam hadis terebut adalah tentang amalan yang dapat mengantarkan kita ke Surga dan menjauhkan kita dari Neraka.
Amalan-amalan tersebut adalah:
1.      Menyembah Allah c;
Sebagai mahluk ciptaan-Nya, sudah menjadi kewajiban kita menyembah Sang Maha Pencipta. Selain sebagai wujud rasa syukur kita kepada-Nya atas segala karunia dan berkah hidup kita, juga sebagai wujud kepatuhan kita sebagai mahluk-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Imran ayat 18, yang berbunyi:
لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  
Yang artinya: “… Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. 3:18)

2.      Tidak boleh menyekutukan Allah c dengan apapun;
Karena Allah adalah dzat Yang Maha Esa, maka tidak ada hal lain kecuali Allah. Bahkan saat pertama kita menyatakan diri sebagai orang Islam, hal pertama kali kita lakukan adalah bersyahadat, yang berbunyi:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Yang artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan/Rabb/sesembahan selain Allah c dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah rasul/utusan Allah”

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 19, yang berbunyi:
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ
Yang artinya: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan…” (QS. 47:19)


3.      Mendirikan shalat
Shalat merupakan kebutuhan kita sebagai hamba Allah yang beriman. Dengan shalat, kita dapat membersihkan jiwa dan menjadikan kita seagai hamba yang layak bermunajat kepada Allah saat di dunia dan berada dekat dengan Allah di akhirat kelak.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut ayat 45, yang berbunyi:
 إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ 
Yang artinya: “… Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. 29:45)

4.      Membayar zakat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin, dsb) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 12, yang berbunyi:
 إِنِّي مَعَكُمۡۖ لَئِنۡ أَقَمۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ... 
Yang artinya: “… Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam Surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai...” (QS. 5:12)

5.      Puasa Ramadhan
Puasa, secara bahasa berarti menahan. Dalam buku Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, menyampaikan bahwa puasa secara syar’i berarti menahan makan, minum, berhubungan intim dan seluruh hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niatnya ibadah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. 2:183)

6.      Haji ke Baitullah
Ibadah haji merupakan ibadah yg harus dilakukan oleh umat Islam yang mampu dengan mengunjungi Ka’bah di kota suci bernama Mekah pada bulan Haji (Dzulhijjah)

Allah berfirman dalam Al-Qur’n Surah Al-‘Imran ayat 97, yang berbunyi:
فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ
Yang artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...” (QS. 3:97)

            Itulah beberapa amalan-amalan yang insya Allah akan mengantarkan kita ke Surga, semoga Allah meridhoi apa-apa yang telah kita lakukan selama hidup kita di dunia. Dan kita berharap semoga dengan melakukan amalan-amalan tersebut, Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang bertakwa, sehingga mendapatkan hadiah tertinggi dari-Nya berupa Surga sebagai tujuan akhir dari hidup kita. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin...


Daftar pustaka:
Ust. H. Muhammad Saifudin, Lc., M.Ag. 2010. Al-Qur’anul karim (Syamil Al-Qur’an Terjemah Tafsir per Kata). Jakarta: Sygma Publishing.
Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri. 2009. Minhajul Muslim. Surakarta: Insan kamil.
Imam An-Nawawi. 2017. Terjemah Hadis Arba’in An-Nawawiyah. Jakarta Timur: Sholahuddin Press.

d'most fav web

Copyright @ 2013 yanti.